Masihkah kau ingat, perihku melepas pergimu…?
Hanya memandang punggung yang menjauh, semakain menjauh
Menahan tangis yang mencekat kerongkongan
Aku sakit…
Hampa dan kosong kala itu
Entah, seperti apa bentuk hatiku?
Remuk dipenuhi lebam, itu pasti…
Aku selalu menanti…
Berlembar-lembar surat, yang dibawa pak pos untukku setiap Sabtu,
Aku membacanya dengan khusuk, di bawah pohon akasia
Aku tak melewatkan sepatahpun kata, membacanya tuntas..lagi dan lagi
Kau menjelma, di dalam kata yang kau tulis dengan indah
Dan aku riang membacanya…
Kubagi pada burung, pada dedaunan akasia yang berserak menjadi alas dudukku
Aku merindukanmu…
Tigabelastahun sudah
Aku masih menyimpan bertonton kenangan
rindu yang melangit
dan keinginan yang menggunung
untuk dapat sekedar melihatmu
Menatap matamu, dalam… lebih dalam
Kau…
Tak berkabar
hilang
Bahkan jejakmupun tak dapat kubaca
Lebur dalam waktu yang menua
*) Dan..tigabelastahun itu, akhirnya….
