Almost 13 years

Posted in Blue on May 27, 2008 by unai

Masihkah kau ingat, perihku melepas pergimu…?

Hanya memandang punggung yang menjauh, semakain menjauh

Menahan tangis yang mencekat kerongkongan

Aku sakit…

Hampa dan kosong kala itu

Entah, seperti apa bentuk hatiku?

Remuk dipenuhi lebam, itu pasti…

 

Aku selalu menanti…

Berlembar-lembar surat, yang dibawa pak pos untukku setiap Sabtu,

Aku membacanya dengan khusuk, di bawah pohon akasia

Aku tak melewatkan sepatahpun kata, membacanya tuntas..lagi dan lagi

 

Kau menjelma, di dalam kata yang kau tulis dengan indah

Dan aku riang membacanya…

Kubagi pada burung, pada dedaunan akasia yang berserak menjadi alas dudukku

 

Aku merindukanmu…

 

Tigabelastahun sudah

Aku masih menyimpan bertonton kenangan

rindu yang melangit

dan keinginan yang menggunung

untuk dapat sekedar melihatmu

Menatap matamu, dalam… lebih dalam

 

Kau…

Tak berkabar

hilang

Bahkan jejakmupun tak dapat kubaca

Lebur dalam waktu yang menua

 

 

*) Dan..tigabelastahun itu, akhirnya….

 

 

Posted in Uncategorized on April 23, 2008 by unai

Aku ingin menamaimu senja…
karena kau jingga, teduh menenangkan

Aku juga ingin menamaimu hujan…
Karena kau menyegarkan tanah kerontangku

Kau indah seperti pelangi yang menggantung di cakrawala
Semburat warna-warni senyummu menentramkan

Hey…Bukankah kita pernah berjanji, untuk bertemu pada sebuah senja
di antara jarum hujan yang menjanjkan pelangi datang?
Namun sayang…angkuh menguliti waktu
…dan kiita dipisahkan spasi

Kata…hanya sebagai penghias sua-sua maya

Aku ingin menamaimu senja

Karena aku tak ingin lupa
pada senja pertama kita
pada tatapmu yang menghujam ulu

Dapatkah?

Posted in Love on April 3, 2008 by unai

Dapatkah lagi kutitipkan kangen di sini, dalam rahasia dan bahasa kebisuan? sampaikah?

Kepada Aku…

Posted in unwriten on April 3, 2008 by unai

bibomediacom_4155.jpg

Pagi tadi..senyummu rekah. Persis seperti kelopak mawar yang tumbuh di halaman rumah. Manis…

Meski dalam gegas, kau tak terlihat gugup. Maklumku, kau bak besi tempa…panas dan hantaman palu godam tak membuatmu melepuh. Kau bahkan mampu menangkap hikmah dari setiap peristiwa. Kau memapu melewati setiap sempit, tanpa keluh.

Hari ini, sama seperti pagi-pagi sebelumnya. Sepotong roti juga secangkir kopi pekat tak jua pernah kau lewatkan, selalu saja menemanimu mengawali hari.

Aku suka caramu menyeruput kopi mengepul sembari mengancingkan blazermu, aku juga suka caramu memanfaatkan sepersekian detik tanpa jeda, seolah kau tak hendak melewatkannya percuma. Akupun suka caramu memandang hidup.

Kau optimis, setegap langkah. Kau niscaya seperti matahari. Kau selalu yakin akan ada jalan di setiap kesulitanmu mencapai tujuan.

Teruslah rekah bak mawar merah di halaman rumah kita.

Ketepeng Tahun Lalu

Posted in Blue on February 14, 2008 by unai

         Ketepeng

“Besok kita akan menanam pohon ini, di halaman rumah ya nduk…”

Aku menggeleng, dan lantang mengatakan

“Tidak…! pohon ketepeng berulat”

Ulat itu membuatku bergidik, geli…bercampur takut.

“Aku tak suka pohon ketepeng…titik!” Daunnya akan berguguran di musim kemarau yang sewaktu-waktu datang, dan ulat berpesta pora dikala hijau daun muda bermunculan.

Tapi, itu dulu..kemarau tahun ini telah merubah ketidaksukaanku pada pohon ketepeng yang tidak bersalah. Dedaunan kering yang berwarna jingga itu, ternyata indah…

Keberpulanganmu setahun lalu…sungguh menyisakan beling di hati dan persahabatan kita…pak, tak lantas begitu saja terkubur, seperti jasadmu yang kini dimakan renik.

Di bawah rindang pohon ketepeng yang seperti payung, katamu itu….aku duduk. Satu dua daunnya menghias lapangan parkir seluas hampir satu hekta are ini. Aku hanyut dalam lamunan, tebang anganku jauh ke belakang. Ratusan kupu-kupu menari…mengepakkan sayap mungil warna warni, bukti purnanya metamorfosa.

Ulat yang dulu menjadi alasanku untuk membenci pohon ketepeng membuatku malu…; tak seharusnya aku membenci sesuatu yang tak pernah terduga menjadi apa.

Setahun sudah kau pergi, Pak…tapi ingatanku akan inginmu, harap, dan setiap perkataanmu…masih melekat. Bahkan sesekali aku masih mendengar suaramu yang memanggilku..membahana di setiap sendiriku. Damailah kau di sisi-Nya…Amien.

 

*) teruntuk Bapak mertua…meski kita tak lagi dapat tertawa bersama,menertawakan layang2ku yang putus karena diadu dengan layang2mu yang benangnya kau buat sendiri…namun aku cukup puas, tertawa dalam hati. Aku akan menanam pohon ketepeng itu, di halaman belakang rumah, nanti pak…jenguklah sesekali.

Posted in Blue on January 20, 2008 by unai

                            Wave

Ketika kuterjaga di fajar yang gemetar, kusingkap selimut malam perlahan. Kau datang tiba-tiba tanpa kata. Diam saja. Tak juga kutemukan apa-apa di mata coklatmu, kecuali secuil kebimbangan yang entah sejak kapan bergelayut di sana? Kau datang di setiap sunyi, di setiap bimbang, di manapun…, pada saat apapun. Pagi hingga petang….Siang hingga malam. Kau ada…

Seperti pagi ini, saat embun menebar aroma khas pagi, kuncup harapku memutik. Pelangi menari, bak bianglala warna-warni, menambah kesegaran pada kabut yang belum terangkat. Aku akan datang, ke suatu tuju. Tempat adamu di situ.

Bermusim mananti saat, dan kini…waktu berpihak, untuk kita membincangkannya.Meski tak cukup leluasa aku merekam setiap gerakmu, namun cukuplah…

“Bukankah sedikit ini lebih berarti daripada banyak yang percuma itu?” 

Kaki yang kujejakkan, dan kenangan yang membentang di sepanjang jalan yang tampak lembab itu, biarlah mengabadi…jangan pernah mati. Meski tak ada apapun yang terjadi-tak ada percakapan diantara deru detik yang tengah terengah berlari.

“Ah, andai saja…”

Aku bisa apa ? tak mampu berbuat apapun disaat kau memilih berlalu, meninggalkan cemas di sudut ruang. Kau hanya meninggalkan jejak, dan wangi tubuh yang datang sebelum kau ada. Dan aku…mematung di hamparan bisu sambil memandangi hujan bintang di pelataran. Mungkin…tak cukup mengerti, tentang makna hujan bintang yang kusaksian sendirian tadi malam ; saat kau dalam gegas. 

Aku tak meminta apapun..jadi kau tak perlu memberi. Kau tak perlu memberi…

 

Aku adalah sepi

Posted in Uncategorized on January 8, 2008 by unai

Aku adalah sepi
yang menari dalam tangkaitangkai malam
juga dalam sulur hujan
berselendang rajutan alangalang

Aku adalah sepi
yang menanti dari tepi ke tepi
yang mencintai lubuk dipenuhi titiktitik embun pagi

Lihat! angin menyapu awan
Mengusir paksa embun yang manja
dengan umpatan yang ituitu saja

Mengapa masih saja ?

Aku adalah sepi
yang mewarnai hari dengan jemari
yang meremas nyeri hati dengan gigih